Cerita Sex – Ngentot Guruku Yang Nakal

Cerita Sex – Ngentot Guruku Yang Nakal

Cerita SexNgentot Guruku Yang Nakal – Hari itu Aku baru saja memperoleh tawaran kerja yang baik dari salah satu anak murit ku. Sebetulnya saya tidak demikian itu rugi apabila saya menginap di rumah bu Tania. Aku bisa menghemat uang kosku selama separo bulan apabila saya menginap di rumah bu Tania. Lagipula saya akan lebih bisa mengawasi Fanndy untuk belajar menghadapi ujian semesternya yang semakin mendekat, dengan demikian itu, saya bisa memperoleh kans untuk mengamankan pekerjaanku. Sebetulnya yang perlu kulakukan hanyalah memastikan apabila Fanndy tidak “mengerjaiku” lebih parah dari kemarin.

“Baiklah, kakak sepakat. Namun kau juga wajib berjanji, kau wajib belajar yang rajin selama kakak tinggal di rumahmu.” Anggukku sambil memberinya penawaran.

“Berees, kak! Asal kakak mau menurutiku selama itu, saya pasti belajar!” jawabnya dengan giat.

“Iya, iya..” balasku dengan perasaan agak lega.

Kami lalu segera beranjak ke kamar Fanndy dan saya malahan mulai mengajarinya. Namun hari ini ada yang berbeda dari Fanndy. Ia kelihatan lebih serius dan giat dalam menyimak penjelasanku. Kurasa ia sudah cukup gembira dikala mendengar saya akan menginap di rumahnya 2 hari lagi. Tidak lama kemudian, kudengar suara bu Tania di lantai bawah.

“Nah, Mami sudah pulang! Kakak tunggu sejenak ya! Aku mau bicara dahulu dengan Mami!”

Fanndy segera beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari kamarnya tanpa menghiraukanku. Sayup-sayup kudengar suara percakapan Fanndy dengan bu Tania, tetapi saya tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan. Sambil menunggu Fanndy, saya mempersiapkan soal-soal latihan yang akan kuberikan untuknya nanti. Sekitar 5 menit kemudian, Fanndy kembali ke kamarnya bersama bu Tania.

“Halo, Rina. Fanndy minta saya untuk mengizinkanmu tinggal di rumah ini selama saya tidak di rumah.”

“Eh? I.. iya, bu Tania! Fanndy memberitahu saya apabila ia mau memperoleh les tambahan dari saya selama bu Tania tidak dirumah.. Katanya.. untuk persiapan ujian semester..” ujarku dengan agak gugup.

Baca Juga – Kumpulan Cerita sex Dewasa Membantu Kak Arliani Latihan Yoga

“Wah, kebetulan sekali apabila demikian itu! Soalnya tante Fanndy juga akan ikut serta ke Jerman. Makanya tadi saya sempat mengajak Fanndy untuk ikut serta. Namun karena ada ulangannya yang penting, Aku jadi ragu-ragu.”

“Jadi?” tanyaku

“Jika kau mau, Aku memperkenankan kau tinggal disini selama saya tidak dirumah. Namun saya juga minta kau untuk mengurus Fanndy selama itu. Sebagai gantinya, saya akan berikan tambahan bonus untukmu di akhir bulan ini. Bagaimana?” Jawab bu Tania memberikan tawaran.

“Bagus, bu Tania. Aku sepakat!” anggukku sambil tersenyum. Kini saya memperoleh tambahan keuntungan dengan menerima tawaran Fanndy. Dengan bonus yang disediakan bu Tania dan penghematan uang kosku selama separo bulan, saya bisa menambah uang tabunganku sekaligus membiayai sebagian keperluanku bulan depan.

“Baguslah! Jika demikian itu, Rina, bantu kau siapkan barang-barangmu yang akan kau bawa untuk tinggal disini. Lusa nanti saya akan menjemputmu sebelum kau mengajar Fanndy.” Ujar bu Tania.

“Iya, bu Tania!” saya mengiyakan permintaan bu Tania.

Setelah memecahkan tugasku hari itu, saya segera bergegas pulang untuk mulai mengemas barang-barangku. Untunglah saya tidak memiliki banyak barang selain baju dan perlengkapan-perlengkapan kecil milikku. Aku juga memberitahu pemilik rumah kosku bahwa saya akan pindah selama separo bulan. Syukurlah mereka mau paham dan bersedia menyimpankan kamar bagiku apabila saya kembali.

2 hari kemudian, bu Tania dan Fanndy malahan datang menjemputku sebelum saya mengajar Fanndy. Aku lalu dipandu ke rumah mereka. Aku diizinkan untuk tidur di kamar tetamu di lantai bawah. Malam harinya, saya diberitahu bu Tania tugas-tugasku di rumah itu selama bu Tania di luar negeri. Aku dipinta untuk mengerjakan sebagian profesi rumah tangga seperti memasak, mencuci dan membersihkan rumah. Aku sudah terbiasa memasak dan mencuci sendiri sejak kecil, karenanya tugas ini tidak lagi sesulit yang kubayangkan. Lagipula untuk keperluan sehari-hari, bu Tania sudah menyuruh anak buahnya untuk mengantar bahan makanan dan supir sanggar untuk mengantar-jemput kami. Jika ada hal lainnya yang dibutuhkan, saya cuma perlu menelepon sanggar untuk minta bantuan mereka. Esok harinya, bu Tania sudah berangkat dikala saya pulang dari kuliah.

Sehingga cuma ada saya dan Fanndy sendiri di rumah. Aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Seusai mandi, saya benar-benar kaget dikala mengamati semua baju milikku menghilang. Cuma ada satu pelaku yang bisa mengerjakan hal ini! Aku lalu menutupi tubuhku dengan selembar handuk yang untungnya, tidak sempat diambil oleh “pencuri” itu. Aku segera naik ke lantai atas untuk mengambil kembali baju milikku.

“Fanndy! Reendyy!! Buka pintunya!” Seruku sambil menggedor kamar Fanndy. Pintu kamar itu sedikit dibuka dan wajah Fanndy muncul dari sela-sela pintu kamar itu.

“Ya, ada apa kak?!” tanyanya padaku. Namun matanya segera melirik tubuhku yang cuma berbungkus sebuah handuk dan ia tersenyum cengengesan mengamati keadaanku.

“Wah, waah.. Kakak sudah tidak sabaran ya?” tanyanya sambil ngakak kecil.

“Huuh! Dasar usiil!! Ayo, kembalikan baju kakak!!” gerutuku.

“Lhooo.. memangnya baju kakak kuambil? Apa ada kongkretnya?”

“Jika bukan kau siapa lagii? Sudah, ayo pesat kembalikan baju kakak!”

“Kak, apabila menuduh orang tanpa bukti itu tidak baik lho! Hukumannya, saya tidak mau memberitahu dimana kusembunyikan baju kakak, Hehehe..” Fanndy tersenyum mengejekku dan menutup dan mengunci pintu kamarnya dihadapanku.

“Aah! Hei, Fanndy! Tunggu duluu..” protesku, tetapi Fanndy sudah keburu menutup pintu kamarnya sambil mengejekku dibalik pintu.

Aku malahan terpaksa menggigil kedinginan, suhu di rumah itu dingin sekali karena dipasangi AC, ditambah lagi saya baru saja mandi dan sekarang tubuhku cuma ditutupi oleh selembar handuk saja. Selama sebagian menit saya terus menggedor pintu kamar Fanndy dan berupaya membujuknya, tetapi ia sama sekali tidak menggubrisku.

“HATSYII..!!!” Karena tidak awam, saya malahan bersin akibat pilek karena suhu dingin itu.

“Kak! Kakak pilek, ya?” tiba-tiba terdengar suara Fanndy dari balik pintu.

“I.. iya.. Fanndy, bantu… kembalikan baju kakak.. disini dingin sekali.. kakak tidak tahan..”

“Oke deh, tetapi kakak wajib mau menerapkan baju yang kuberikan ya!”

“Iya.. iya.. pesat doong… Kakak kedinginan disini..” pintaku pada Fanndy

Fanndy kembali keluar dari kamarnya. Ia mengamati sekujur tubuhku yang menggigil kedinginan. Anehnya, raut wajahnya kelihatan berubah, ia tidak lagi kelihatan gembira maupun puas mengerjaiku. Kini ia kelihatan agak galau.

“Haa.. HATSYII!!!” kembali saya bersin dihadapannya. Kulihat raut wajahnya semakin cemas saja mengamati keadaanku.

“Ayo Kak, ikut serta denganku!” pinta Fanndy padaku yang segera kuturuti saja.

Fanndy menuntunku ke ruang disebelah kamarnya. Pintu ruang itu dikunci, tetapi Fanndy segera membuka pintu itu dengan sebuah kunci di tangannya. Seperti saya masuk, saya takjub mengamati puluhan helai gaun pengantin putih dalam berbagai ukuran dan contoh yang tergantung rapi di kamar itu. Berbagai aksesoris pengantin wanita juga tertata rapi bersama gaun-gaun itu. Terbukti kamar itu merupakan kamar desain bu Tania sekaligus tempatnya menyimpan hasil rancangannya yang belum dikirim ke sanggar.

“Kak, saya minta kakak menerapkan baju itu.” ujar Fanndy seraya menunjuk ke arah sehelai gaun pengantin putih yang dipasang di sebuah mannequin.

“Apaa?! Mengapa kakak wajib menerapkan baju seperti itu? Memangnya kakak mau menikah, apa?!” jawabku separo tidak percaya, separo linglung.

“Ya, sudah! Jika kakak tidak mau, kakak boleh menerapkan handuk itu saja kok!” balas Fanndy.

“Iyaa! Dasar!! Kau mintanya yang aneh-aneh saja!!” ujarku agak jengkel. Terpaksa kuturuti permintaan Fanndy, ketimbang pilekku semakin parah.

“Oh iya Kak!”

“Apa lagii?”

“Bajunya yang komplit ya, Kak! Soalnya baju itu sudah 1 set dengan aksesorisnya!” pinta Fanndy.

“Jangan lupa juga untuk merias diri dengan kosmetika Mami ya Kak! Sudah kusiapkan lhoo..” imbuhnya.

Aku menghela nafas dan menutup pintu kamar itu. Memang kulihat gaun itu dilengkapi dengan mahkota, sarung tangan, malahan stocking dan sepatu yang semuanya berwarna putih susu. Luar awam! Sebentar saya terkagum dengan kepandaian bu Tania dalam merancang gaun itu, komposisi yang disusunnya benar-benar selaras. Aku lalu menuruti instruksi Fanndy untuk menerapkan semua baju itu dengan komplit. Berat bagiku memang, karena saya belum pernah menerapkan gaun pengantin sebelumnya. Setelahnya, saya malahan merias diriku dengan kosmetika milik bu Tania. Kulihat semua kosmetika itu buatan luar negeri.

Aku sendiri agak canggung untuk menerapkan kosmetika-kosmetika itu, mengingat harganya yang selangit bagi mahasiswi sepertiku. Namun setidaknya, saya memperoleh sebuah kans untuk mencoba kosmetika-kosmetika itu, karenanya saya berupaya untuk tidak menyia-nyiakan kans ini. Setelah sebagian lama, saya akhirnya selesai mempengantinkan diriku. Kubuka pintu kamar itu dan seperti yang sudah kuduga, Fanndy sedari tadi sudah menungguku di depan pintu.

Ia kelihatan sungguh-sungguh terpana melihatku yang berbusana pengantin itu. Busana pengantin berupa sebuah gaun pengantin putih yang menawan sekali. Atasan gaun memiliki sepasang puff bahu yang terikat dengan sepasang sarung tangan satin dengan panjang selengan di kedua tanganku yang sekarang menutupi jari-jariku yang lentik. Di komponen perut dan dada gaunku bertaburan kristal-kristal imitasi yang samar-samar membentuk sebuah pola hati.

Komponen pinggang gaun itu memiliki hiasan kembang-kembang sutra yang melingkari komponen pinggang gaun itu seperti sebuah ikat pinggang yang seolah mengaitkan atasan gaunku dengan rok gaun polos yang dihiasi manik-manik membentuk hiasan bunga-bunga yang bertebaran disekeliling rok gaunku. Pinggulku dipasangi pita putih besar. Aku juga memakaikan rok petticoat di pinggangku supaya rok gaunku kelihatan mengembang. Fanndy sendiri kelihatan terkagum mengamati menawannya wajahku yang sudah kurias sendiri; kelopak mataku kurias dengan eye-shadow berwarna pink dan alsiku yang kurapikan dengan eye-pencil. Sementara lipstick yang berwarna pink lembut kupilih untuk melapisi bibirku yang kelihatan selaras dengan riasan bedak make-upku.

Riasan mahkota bunga putih kelihatan selaras dengan rambut hitam-sebahuku yang kubiarkan tergerai bebas. Aku sudah memasang stocking sutra berwarna putih yang lembut di kakiku yang dilengkapi dengan sepasang sepatu hak tinggi berwarna putih yang kelihatan selaras seperti gaun pengantinku. Tubuhku juga kuberi parfum melati milik bu Tania sehingga sekujur tubuhku memancarkan aroma melati yang sungguh-sungguh wangi.

“Nah, bagaimana?” ujarku pada Fanndy yang masih melongo mengamati penampilanku.

“Hei! Kok malahan bengong sih?!” seruku, yang segera menyadarkan Fanndy dari lamunannya.

“E.. eh.. ccantik sekali Kak!” jawab Fanndy tergagap-gagap, saya ngakak kecil mengamati tingkahnya yang linglung.

“Kak, ini.. buat kakak..” Fanndy mengulurkan setangkai mawar merah kepadaku. Mawar merah yang menawan itu kelihatan segar berkilauan.

“Waah, terima beri ya!!” otomatis saya mencium bunga itu untuk menghirup wangi-wangiannya. Sebentar aroma yang menyengat menjelang hidungku saya malahan segera merasa pandanganku tiba-tiba kabur dan tubuhku terasa lemas.

Aku malahan ambruk tidak sadarkan diri. Sayup-sayup kulihat senyuman Fanndy, saya berupaya untuk konsisten sadarkan diri, tetapi mataku terasa berat sekali dan akhirnya saya menutup kelopak mataku. Entah apa yang terjadi pada tubuhku, tetapi dikala saya sadar, saya mengamati diriku sudah terbaring mengangkang di sebuah ranjang dalam kondisi berbusana pengantin komplit.

Kedua tanganku terikat di belakang punggungku sementara kakiku terikat erat di sisi kanan-kiri tiang ranjang itu sehingga posisi tubuhku mengangkang lebar. Aku merasa sungguh-sungguh geli di tempat kewanitaanku, seperti ada sebuah daging lunak hangat yang menyapu-nyapu tempat kewanitaanku, adakalanya daging itu menikam-nusuk seolah hendak membuka bibir kewanitaanku melalui celah vaginaku. Aku juga merasa tempat disekitar vaginaku sungguh-sungguh becek akibat gerakan daging itu.

“Aahh.. oohhh..” Aku malahan mendesah perlahan menikmati sensasi di kewanitaanku itu. Rasanya vaginaku seolah diceboki, tetapi gerakan daging itu yang seolah berputar-putar mempermainkan vaginaku menimbulkan sensasi nikmat disekujur tubuhku. Aku merasa tubuhku diairi listrik tegangan rendah dikala daging itu membelah bibir kewanitaanku dan menyentuh lubang pipisku.

“Eh! Kakak sudah bangun ternyata!!” tiba-tiba kudengar suara Fanndy dibalik gaunku. Aku berupaya mendongak dan kulihat wajah Fanndy sedang berada ideal di depan selangkanganku yang terbuka lebar. Sadarlah saya apabila “daging” tadi tidak lain merupakan lidah Fanndy yang sedang menjilati vaginaku. Aku berupaya berontak, tetapi untuk menutup kedua pahaku yang sedang terbuka lebar saja sungguh-sungguh susah. Tubuhku terasa sungguh-sungguh lemas tanpa tenaga. Dikala saya mengamati sekitarku, saya baru sadar apabila saya sekarang berada di dalam kamar bu Tania.

“Badan kakak masih belum bisa digerakkan, soalnya akibat obat tidur Mami masih tersisa.” Terang Fanndy sambil berjalan ke sampingku.

Sekejap saya merasa sungguh-sungguh panik dan berupaya mengerahkan semua tenagaku untuk kabur, tetapi sia-sia saja. Tubuhku tidak mau bergerak sedikitpun. Astaga! Bagaimana saya bisa sebodoh itu mencium aroma bunga yang ditaburi obat bius?! Niatku untuk menjaga jarak dari Fanndy sekarang sia-sia saja. Kini malahan kesucianku terpampang jelas di hadapannya, saya dalam kondisi terjepit dan tidak bisa kabur lagi.

“Kakak hening saja, dijamin nikmat kok! Hehehe..” tawa Fanndy terkekeh-kekeh.

“Jangan, Fanndy.. Jangan.. kakak mohon!!” pintaku mengucur air mata dikala mengamati Fanndy berbalik berjalan menuju arah selangkanganku.

Baca Juga – Kumpulan Cerita Seks Ayah Tiriku yang Bejat

Namun sia-sia saja, Fanndy sama sekali tidak mau mendengar permohonanku. Aku malahan semakin panik dan cemas. Namun mataku kembali meleleh membasahi mataku, tetapi apa dayaku? Tubuhku sekarang sungguh-sungguh susah digerakkan karena ikatan itu ditambah rasa lemas disekujur tubuhku karena akibat obat bius yang tersisa. Kini saya cuma bisa pasrah memperkenankan Fanndy menyantap kewanitaanku. Jantungku berdegup semakin pesat dan wajahku merah merona dikala Fanndy semakin mendekati selangkanganku. Fanndy lalu memegang kedua pahaku yang mulus. Ia mulai mengendusi paha kananku sementara paha kiriku dibelai-belai dengan tangannya.

“Essh..” saya mendesis sesaat sesudah bibir Fanndy mencium bibir kemaluanku. Tiupan nafas Fanndy di pahaku membikin tubuhku sedikit mengigil kegelian. Dikala bibir kemaluanku bertemu dengan bibir Fanndy, Fanndy mulai menjulurkan lidahnya. Aku lidah ular yang menari-nari, bibir kemaluanku dijilati olehnya. Kembali bibir kewanitaanku dibelah oleh lidah Fanndy, yang kembali menari lidahnya menceboki liang vaginaku perlahan-lahan. Aku berupaya sekuat mungkin untuk membendung gejolak birahi yang sekarang mulai melanda diriku, tetapi konsisten saja suara desahan-desahanku yang tertahan adakalanya terdengar keluar dari bibirku karena rasa nikmat yang menjuluri tubuhku apalagi belaian lembut Fanndy di pahaku semakin terasa geli akibat stocking sutra yang kupakai.

“Haaa?! Aakh..!!” Sontak saya menjerit kaget dikala menikmati sensasi rasa geli dan nikmat yang tiba-tiba melanda tubuhku. Terbukti Fanndy menjilati klitorisku. Ia ia menyentil klitorisku dengan lembut sehingga sekujur tubuhku seperti dialiri listrik dan bulu kudukku berdiri. Fanndy menyadari bahwa saya mulai diatur oleh gejolak birahiku. Ia terus melancarkan serangannya ke klitorisku. Berulang kali permohonanku yang disertai dengan desahan kusampaikan ke Fanndy, tetapi ia malahan kelihatan semakin giat mengerjaiku. Kesadaranku malahan semakin menghilang tergantikan dengan rasa nikmat dan impian seksual yang semakin merasuki tubuhku.

“Bagaimana kak? Namun tidak?” tanya Fanndy padaku.

“Fanndyy.. stoop.. auhhh.. jangaan..”

“Ah masaa? Bukannya kakak mendesah keenakan tuh? Yakin nih, nggak mau lagi?” ejeknya sambil menjauhkan wajahnya dari kemaluanku. Namun secara refleks, saya malahan mengangkat pinggangku kehadapan wajah Fanndy, seolah menawarkannya untuk kembali mencicipi liang vaginaku.

“Tuh, kan?! Malu-malu mau, nih cewek!” kembali Fanndy menghinaku. Dipeganginya kedua bongkahan pantatku dengan telapak tangannya dan dtegadahkannya tangannya, sehingga sekarang pinggangku ikut serta terangkat ideal dihadapan wajah Fanndy.

“Aww.. aww.. aaahh..” kembali saya merintih dikala Fanndy mencium dan mengisap-isap daging klitorisku. Ia saya merasa sentuhan giginya pada klitorisku dan hisapannya membuatku sekarang cuma berupaya untuk mengejar kenikmatan seksualku semata.

SLURP.. SLURP.. Ia terdengar suara Fanndy yang menyeruput cairan cintaku yang sudah banyak keluar dari vaginaku, seolah hendak melepas dahaganya dengan cairan cintaku.

“AAHH.. AAHHH.. AAA..” Desahanku semakin keras. Aku merasa ada sebuah tekanan luar awam di vaginaku yang sejenak lagi hendak meledak dari dalam tubuhku. Otot-otot tubuhku secara otomatis mulai menegang sendirinya.

“HYAA.. AAAKH!!!” jeritku bersamaan dengan meledaknya tekanan dalam tubuhku. Tanpa bisa kutahan, pinggangku menggelepar liar, malahan Fanndy terlontar mundur akibat dorongan tubuhku. Aku bisa menikmati vaginaku memuncratkan cairan cintaku dalam jumlah yang banyak. Aku simpul sarafku terasa tegang dan kaku dikala sensasi geli dan nikmat yang luar awam itu menjalari tubuhku, dan akhirnya muncul perasaan lega yang nyaman setelahnya. Aku malahan tergeletak kelelahan, nafasku tersengal-sengal. Aku di tubuhku seolah lenyap segera. Aku sadar, baru saja saya mengalami orgasme yang luar awam!

“Wah, waah.. Terbukti galak juga nih, apabila orgasme!” ejek Fanndy yang sekarang terduduk di hadapan selagkanganku.

Ia mendekati vaginaku dan kembali ia menyeruput cairan cintaku yang masih tersaji di vaginaku sesudah ledakan orgasmeku barusan. Aku malahan cuma mendesah kecil tanpa memberontak. Kepalaku serasa kosong dan saya memperkenankan Fanndy menikmati cairan cintaku sesuka hatinya. Setelah puas meminum cairan cintaku, Fanndy berdiri di hadapanku dan melepas pakaiannya sehingga ia telanjang bulat dihadapanku. Aku kulihat penisnya yang panjangnya sekitar 14 cm sudah menegang keras mengamati keadaanku yang mengangkang lebar, memamerkan kewanitaanku di depannya. Fanndy berjalan melalui tubuhku sampai akhirnya ia tiba didepan kepalaku. Fanndy lalu berlutut di hadapan wajahku sambil mengocok penisnya.

“Kak, tadi rasa memek kakak nikmat sekali loh! Nah sekarang giliran kakak ya, ngerasain punya Fanndy?” seloroh Fanndy. Aku yang menyadari apabila Fanndy akan mengoral penisnya dengan mulutku, mulai menjerit minta pertolongan.

“TOL.. uumph!!” jeritanku terhenti karena Fanndy segera menyumpalkan penisnya didalam mulutku. Aku ukuran penisnya tidak demikian itu besar, tetapi batang penisnya sudah cukup memenuhi rongga mulutku yang imut.

“Hhmmphh.. hmph..” suaraku teredam oleh penis Fanndy.

Aku berupaya memuntahkan penis itu, tetapi Fanndy memajukan bokongnya sehingga penisnya konsisten masuk didalam mulutku sampai menyentuh kerongkonganku. Fanndy menjambak poni rambutku dan mulai menggerakkan kepalaku maju mundur. Rasa sakit di ubun-ubunku karena poni rambutku dijambak sudah cukup untuk membuatku tidak berontak lebih jauh, saya mengikuti gerakan tangan Fanndy yang sedang memaksaku mengulum dan mempermainkan penisnya dalam mulutku.

“Aahh.. Enaak..” desah Fanndy dikala penisnya keluar masuk dari mulutku.

“Hmmp.. mpp.. phh..” saya berupaya mengambil nafas untuk menyesuaikan gerakan penis Fanndy dalam mulutku. Kocokan mulutku masih belum berhenti, tetapi saya merasa agak mual karena rasa dalam mulutku dikala ini. Sementara leherku juga pegal karena dipaksa naik-turun oleh Fanndy.

Namun dikala kemudian, Fanndy berhenti manjambak poniku, saya malahan segera merebahkan kepalaku yang pegal-pegal keatas bantal yang lembut untuk melepas penat. Namun ternyata penderitaanku belum juga usai. Fanndy belum mau melepaskan kenikmatannya dioral olehku.

Belum sempat penisnya keluar dari mulutku, sekarang ia malahan menekan selangkangannya ke wajahku dan menggoyang-goyangkan bokongnya sehingga penisnya kembali masuk kedalam rongga mulutku. Aku bisa menikmati buah zakarnya yang tergantung menampar-nampar daguku berulang kali bersamaan dengan gerakan bokongnya yang maju mundur dihadapan wajahku yang sekarang tertekan oleh bantal, saya malahan berulang kali tersedak karena penis Fanndy dalam mulutku bergerak dengan sungguh-sungguh pesat.

“Oke, kak! Kini giliran kakak yang main! Ayo kulum dan mainin pakai lidah kakak!” instruksi Fanndy sambil menghentikan gerakannya. Aku sendiri sudah mati kutu, kepalaku terjepit diantara selangkangan Fanndy dan bantalku, sehingga saya tidak bisa bergerak bebas.

“Ayo, Kak! Atau mau kugerakkan sendiri dimulut kakak seperti barusan?” ancamnya padaku. Aku malahan tidak punya alternatif lain selain menuruti instruksi Fanndy, setidaknya saya akan lebih leluasa bernapas apabila saya yang bergerak sendiri. Aku malahan menggerakkan lidahku membelai-belai batang penisnya yang masuk sampai rongga mulutku. Ia lidahku juga bersentuhan dengan kepala penisnya. Sebetulnya saya agak jijik juga karena tercium bau agak pesing dari ujung penis Fanndy, tetapi apa dayaku? Lebih baik kuturuti instruksi anak ini supaya siksaanku pesat selesai. Aku malahan berupaya untuk tidak demikian itu mempedulikan bau itu. Penis Fanndy kuanggap saja seperti permen yang luar awam tidak nikmat. Aku malahan terus mengemut penis Fanndy itu.

“Ayo, kak! Terus! Sedap juga nih, nyepongnya! Namun bangeet!”

“Mmphh..” erangku.

“Isapin juga kak! Aku ngisap permen!” kembali Fanndy memberi instruksi padaku, yang segera saja kuturuti.

Kuhisap penisnya dengan perlahan dan lembut dengan kemauan anak ini bisa segera menghentikan aksinya dan saya bisa terbebas dari siksa ini. Herannya, selama sebagian menit kuoral, Fanndy masih saja tidak puas. Aku malahan mulai kelelahan mempermainkan penisnya dalam mulutku, meskipun saya mulai terbiasa dengan situasiku sekarang.

Entah setan apa yang merasukiku, tetapi dikala saya mengingat bahwa saya sedang mengoral penis anak kecil yang tidak lain merupakan muridku, saya merasa impian seksualku kembali meninggi dalam tubuhku. Aku mau sekali menempuh orgasme sekali lagi dan saya mau mencoba sesuatu yang lebih hebat lagi bersama Fanndy. Pikiran itupun membuatku memainkan penis Fanndy sebaik mungkin dalam mulutku supaya Fanndy menempuh kepuasannya.

“Ookh..” Aku mendengar suara erangan panjang keluar dari mulut Fanndy dan dikala itulah, saya merasa mulutku disembur oleh cairan kental berbau amis. Aku menyadari bahwa Fanndy baru saja berejakulasi dalam mulutku, dan sekarang mulutku dipenuhi spermanya. Fanndy kembali menekankan selangkangannya ke wajahku.

“Telan kak! Jangan sampai bersisa!”

Aku malahan menuruti instruksi Fanndy, kutelan semua air mani dalam mulutku, sekaligus kuhisap-hisap penis Fanndy supaya spermanya tidak bersisa. Fanndy cuma mengerang keenakan dikala penisnya kubersihkan dengan mulutku.

“Woow.. enaak.. lebih nikmat dari onanii…” seloroh Fanndy. Namun saya tidak peduli, saya terus menghisap-hisap penisnya itu sampai saya yakin tidak ada lagi air mani yang tersisa. Setelah selesai, Fanndy mengeluarkan penisnya dari dalam mulutku.

“Waah.. Kakak pintar banget lho! Namun sekali kak!”

“Fanndy, kau jahaat..” protesku.

“Lho kenapa? Bukannya kakak sekarang sudah jadi pengantinku?” balasnya.

“You may kiss your briide!!” sorak Fanndy tiba-tiba.

Tanpa basa-basi, Fanndy segera mencium bibirku. Bibirku diemut-emut dengan lembut dan adakalanya bibirku juga dijilati oleh lidahnya. Aku cuma memperbolehkannya mempermainkan bibirku sesuka hatinya. Sesekali-perlahan lidah Fanndy membelah bibirku dan lidahnya menyusup kedalam rongga mulutku. Aku malahan menanggapi dengan menghisap lidah Fanndy dengan lembut. Ia juga kujulurkan lidahku, sehingga giliran Fanndy yang menghisap air ludahku yang menyelimuti lidahku. Gairah seksualku sekarang benar-benar menguasai tubuhku, semakin kuingat bahwa Fanndy yang dikala ini sedang bercinta denganku, semakin saya tenggelam dalam hasratku. Selama sebagian menit kami terlibat dalam French kiss itu, sebelum akhirnya Fanndy menghentikan ciumannya di bibirku. Aku malahan kelihatan kecewa dikala Fanndy menjauhkan wajahnya.

“Mengapa kak? Namun kan rasanya? Masih mau lagi?” tanyanya.

Pertanyaan Fanndy itu segera memancing gairah seksualku yang meningkat. Aku merasa ini merupakan sebuah kans bagiku, tetapi sebelum saya sempat menjawab, tiba-tiba Fanndy mengambil sehelai celana dalam putih berenda yang tadi kupakai dan menjejalkannya ke mulutku sampai celana dalamku memenuhi semua rongga mulutku. Belum puas, Fanndy juga melakban mulutku sehingga celana dalamku itu tersumpal sempurna di dalam mulutku.

“Mmfff…” Protesku pada Fanndy. Namun suaraku terhalang oleh celana dalam yang menyumbat mulutku.

Baca Juga – Kumpulan Cerita Seks Ayah Tiriku yang Bejat

“Jangan dijawab dahulu, Kak. Nanti ya, Fanndy mau istirahat dahulu!”

“Oh, Kakak juga boleh istirahat kok! Nah, ketimbang bosan, bagaimana apabila kakak nonton saja dahulu?” lanjut Fanndy. Aku bisa mendengar suara layar kaca yang dinyalakan dan suara pemutar DVD yang dibuka oleh Fanndy. Setelah selesai, Fanndy lalu mendatangiku yang masih terbaring mengangkang di ranjang.

“Jangan berontak ya, Kak! Jika tipe-tipe, video kakak kusebarkan!” ancamnya. Fanndy lalu melepaskan ikatan kakiku di kedua tiang ranjang itu. Aku disandarkan ke kepala ranjang dan Fanndy menyandarkan sebuah bantal di punggungku dan juga sebuah bantal kecil di pantatku untuk kududuki supaya saya merasa nyaman. Tali yang tadi diaplikasikan untuk mengikat kakiku sekarang diaplikasikan untuk mengikat sikut tanganku yang masih terikat di punggungku pada kedua tiang komponen atas ranjang canopy itu supaya saya tidak kabur.

“Oke deh! Rasanya sudah cukup!! Nah, kakak santai saja ya? Nikmati saja filmnya!” Fanndy lalu memutar DVD itu.

“Mmff!!” Aku berteriak kaget dikala mengamati adegan asmara seorang wanita berbulu pirang di layar layar kaca itu, ternyata Fanndy menyetelkan DVD porno untuk kutonton..

“Kakak pelajari gayanya dahulu, ya! Aku nanti siap main dengan Fanndy! OK?!” Fanndy tersenyum dan beranjak pergi, meninggalkanku sendiri terikat di ranjang sambil berupaya membendung gejolak birahiku yang semakin mendera karena suguhan adegan panas dihadapanku.

Aku malahan terpaksa menonton film porno itu sekitar 2 jam. Yah, saya memang pernah mengamati sekilas film porno di handphone teman-teman SMUku, tetapi mungkin karena ini pengalaman pertamaku mengamati film porno selama itu, muncul keinginanku supaya vaginaku dimasuki oleh penis seperti wanita bule yang ada di film porno itu. Pikiranku bergejolak, saya sadar bahwa saya akan kehilangan keperawananku apabila vaginaku dimasuki penis Fanndy, tetapi di sisi lain, saya penasaran akan rasa nikmat yang tampaknya melanda wanita di film itu dikala vaginanya dimasuki oleh penis. Aku juga mau menikmati kenikmatan itu. Apakah saya juga akan merasa senikmat itu apabila vaginaku dimasuki oleh penis? Aku masih bisa mengingat dengan jelas rasa nikmat dikala vaginaku dijilati dan dipermainkan oleh Fanndy sebelumnya. Tentunya saya akan merasa lebih nikmat lagi apabila vaginaku dipermainkan oleh penis Fanndy. Lagipula, setidaknya saya tidak perlu cemas akan hamil karena masa suburku baru saja terlewati minggu lalu. Aku rasa penasaran dan gairah seksualku menaklukkan perasaanku. Sudah kuputuskan, saya akan melayani Fanndy sepenuh hatiku. Aku sudah tidak peduli lagi akan statusku sebagai gurunya maupun perbedaan usia kami, yang sekarang kuinginkan hanyalah mengejar kenikmatan seksualku semata. Sudah status dan perbedaan usia kami malahan menjadi sumber gejolak gairah seksualku. Detik dan menit berlalu, tetapi bagiku yang sekarang diatur gairah seksualku, serasa menunggu selama berhari-hari. Cairan cintaku sudah semakin banyak keluar dari vaginaku sehingga saya bisa menikmati bantal yang kududuki semakin berair. Aku, pintu kamar itu terbuka juga dan masuklah Fanndy kedalam kamar itu.

“Bagaimana kak? Sudah puas nontonnya?”

“Sudah tahu kan bagaimana gaya-gayanya?” lanjutnya. Aku cuma mengangguk perlahan dengan wajah memelas.

“Aku, baik!! Kakak emang pintar!” ujarnya sambil membelai kepalaku dengan perlahan, seolah memuji anak kecil.

“Hff..” jawabku.

“Nah, apabila demikian itu kakak mau tidak apabila saya setubuhi seperti di film?” muncullah pertanyaan yang sedari tadi kutunggu. Tanpa pikir panjang, saya segera mengangguk sambil mengamati wajah Fanndy. Namun Fanndy malahan pura-pura tidak mengamati sambil mematikan DVD playernya.

“Apaa? Fanndy nggak bisa dengar nih!”

“Mmff!!” Aku berupaya untuk minta Fanndy melepaskan sumbatan mulutku supaya saya bisa mengobrol, tetapi Fanndy malahan melepas ikatan di kedua sikutku sehingga saya terbebas dari ranjang canopy itu. tetapi tanganku masih terikat pesat di punggungku. Aku lalu diberi bimbingan turun dari ranjang. Fanndy tidak lagi mengawasiku dengan ketat. Ia tahu bahwa saya sekarang sudah tidak mau kabur lagi.

“Waah, udah gede masih ngompol yah, Kak?” ejek Fanndy dikala mengamati bekas cairan cintaku di bantal yang tadi kududuki.

Aku cuma menggeleng perlahan, tetapi kupikir Fanndy juga tahu bahwa itu merupakan cairan cintaku yang meluber karena saya terstimulasi sedari tadi. Fanndy lalu menarikku kehadapan sebuah papan tulis putih di kamar itu yang ditempeli berbagai rancangan bu Tania. Fanndy melepas semua rancangan itu supaya papan tulis itu bersih. Fanndy juga memposisikan tubuhku supaya terjepit diantara sebuah meja dihadapanku dan papan tulis itu dibelakangku. Aku kaget dikala Fanndy dengan sigap menundukkan tubuhku di meja itu sehingga posisiku sekarang menungging kearah papan tulis itu. Fanndy juga menaikkan rok gaun dan petticoatku komponen belakang dan mengkaitkannya di pita putih gaunku yang ada di pinggangku, sehingga sekarang pantatku terpampang jelas menungging didepan papan tulis itu.

“Nah, gimana apabila kakak tulis saja apa yang kakak mau? Soalnya kakak nggak bisa ngomong sekarang” ujarnya dari belakang. Aku malahan semakin heran, bagaimana caraku menulis dengan tangan terikat dan posisi tubuh menungging seperti ini? Aku hendak berdiri, tetapi punggungku ditekan ke meja itu oleh Fanndy.

“Aku sejenak ya, Kak” ujar Fanndy sambil membuka celah pantatku. Fanndy lalu menuangkan lotion ke jari telunjuknya dan mengusapkan lotion itu ke lubang pantatku. Sesaat saya menikmati jari Fanndy yang merekat dilubang pantatku bergerak perlahan mengoleskan lotion itu dan saya bisa menikmati rasa dingin dan licin akibat lotion itu di pantatku.

Setelah lubang pantatku selesai dilumuri lotion, saya merasa ada sesuatu di lubang pantatku, saya tahu benda itu bukanlah jari Fanndy karena benda itu terasa lebih besar dan keras dari jari Fanndy.

“HMMFF!!” jeritku dikala tiba-tiba saya menikmati rasa sakit yang luar awam di lubang pantatku. Suatu benda yang panjang dan keras menekan menjelang lubang pantatku. Aku menoleh ke belakang dan mengamati Fanndy memaksakan untuk memasukkan benda itu ke dalam anusku. Benda itu diputarnya perlahan masuk ke dalam pantatku seperti sekrup. Namun mataku meleleh dikala menikmati rasa perih yang sungguh-sungguh sungguh-sungguh dikala Fanndy memperawani anusku dengan benda itu. Lubang pantatku serasa tersayat-sayat dan rasa perihnya tidak terkira.

“Wuiih.. lubang bokongnya seret banget! Aku sudah dikasih lotion! Pasti masih perawan, nih!” komentar Fanndy yang terus memutar benda itu masuk kedalam anusku. Aku cuma bisa menggeleng-geleng keras memohon supaya Fanndy menghentikan aksinya itu. Namun Fanndy terus memaksakan benda itu untuk masuk kedalam pantatku.

“Oke! Selesai deh!” mengasyikan Fanndy. Aku menoleh kebelakang, saya sungguh-sungguh panik dikala menyadari sebuah spidol berukuran besar sekarang tertanam didalam pantatku. Spidol itu kelihatan mengacung tegak kearah papan tulis karena posisi tubuhku yang menungging.

“Oops, hening saja, Kak! Spidolnya sudah kumasukkan dengan baik, kok! Kakak tahan saja spidolnya dengan otot pantat kakak supaya tidak jatuh!” ujar Fanndy. Kata-kata Fanndy sama sekali tidak menenangkanku apalagi dikala menikmati spidol besar yang sedang tertanam dalam pantatku.

“Nah, ayo tulis apa yang kakak mau!”

“MMFF!!” saya menggeleng memprotes Fanndy. Kini anak ini benar-benar gila! Aku yakin ia pasti mempelajari sistem ini melalui film-film pornonya untuk mempermalukanku.

“Ayoo, apabila tidak, kakak nanti kubiarkan seperti ini, lho! Spidolnya tidak akan kucabut apabila kakak tidak mau berdasarkan!” ancamnya.

“Mmm..” saya memelas mendengar ancaman Fanndy. Aku tahu apabila sedari awal saya tidak memiliki posisi menawar melawan Fanndy dengan kondisi seperti ini.

“Nah! Ayo, tulis di papan tulis kak! Aku waktu kita belajar! Kini, saya mau kakak mengajariku menulis!” ujar Fanndy sambil beranjak duduk dihadapanku, seolah sedang memperdengarkan pembelajaran di kelas.

Aku berupaya konsisten hening dan mulai menggerakkan pantatku di papan tulis itu.

“Mmf!” saya menjerit kecil dan mataku membelalak dikala ujung spidol di pantatku menyentuh permukaan papan tulis.

Pantatku terasa geli dan sedikit perih akibat tekanan spidol itu. Fanndy kelihatan gembira mengamati ekspresi wajahku yang dipenuhi rasa panik, malu dan linglung akan keadaanku sekarang. Aku-lahan saya berupaya untuk menulis dengan pantatku di papan tulis itu. Kaki dan pahaku ikut serta bergerak menaik-turunkan tubuhku yang menungging. Aku senantiasa merintih setiap kali satu goresan kutulis di papan tulis itu karena sensasi yang ditimbulkan spidol itu dalam pantatku, yang entah bagaimana semakin membangkitkan gairah seksualku.

“Aku-hati lho, kak. Jika terlalu ditekan, spidolnya bisa tergelincir masuk kedalam pantat kakak. Nanti tidak bisa keluar lagi lhoo..” sorak Fanndy.

Dasar bandel! Pikirku. Memangnya salah siapa apabila nanti spidol ini malahan terselip masuk kedalam pantatku?!  sekarang saya yang wajib berupaya keras menangkal resiko yang diwujudkan oleh anak ini untuk tubuhku! Aku malahan mulai kehilangan ketenanganku akibat sorakan Fanndy itu. Apalagi adakalanya saya merasa spidol itu semakin masuk kedalam pantatku dikala saya menulis. Namun saya konsisten berupaya keras dan akhirnya, 5 huruf yang acak-acakan tertulis di papan tulis itu. Aku menghela nafas lega dikala saya mengamati hasil tulisanku itu.  untuk dibaca memang, malahan saya yakin tulisan anak SD pasti jauh lebih mudah dibaca dari tulisanku; tetapi saya yakin sudah menulis huruf P-E-N-I-S di papan tulis itu.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*