Cerita Pemerkosaan- Aku Yang Di Perkosa Di Tempat Kerjaku

Cerita Pemerkosaan- Aku Yang Di Perkosa Di Tempat Kerjaku

Cerita Pemerkosaan- Aku Yang Di Perkosa Di Tempat Kerjaku Dengan Berutal

Cerita Pemerkosaan– Aku Yang Di Perkosa Di Tempat Kerjaku –Kisah ini adalah mimpi terburuk ku NamaKu Diana yang masih berumur 23 tahun tidak menyadari bahayanya bekerja sebagai kasir di sebuah toko serba ada yang beroperasi 24 jam di Jakarta. Tapi karena semangat dan keinginan untuk mandiri untuk menghidupi kebutuhan hidup di kota besar hal itu membuat dirinya tidak mempedulikan nasehat orang tuanya yang merasa kuatir melihat putriya sering mendapat giliran jaga di malam hari hingga pagi hari.

Diana memang  lebih suka bekerja pada shift di jam tersebut, Karena dari saat tengah malam sampai pagi biasanya jarang sekali ada pembeli alias sepi , sehingga Diana bisa belajar untuk materi kuliahnya siang nanti. Sampai akhirnya pada suatu malam hal yang di takut kan oleh ibu nya pun terjadi, hal yang tak pernah di baying kan  oleh nya itu pun datang, terjadilah pemerkosaan itu, Diana mendapati dirinya ditodong oleh sepucuk pistol tepat di depan matanya. Yang berambut Gondrong (sebut saja Galih) , dan yang satu lagi tubuhnya Kurus (sebut saja si Karno ). Mereka berdua, menerobos masuk membuat Diana yang sedang berkonsentrasi pada bukunya itu pun terkejut setengah mati .

“Keluarin uangnya cepet !” perintah si Galih, sementara si Karno memutuskan semua kabel video dan telepon yang ada di toko itu. Tangan Diana gemetar berusaha membuka laci kasir yang ada di depannya, saking takutnya kunci itu sampai terjatuh beberapa kali. Setelah beberapa saat,

Diana berhasil membuka laci itu dan memerikan semua uang yang ada di dalamnya, sebanyak 100 ribu kepada si Galih, Diana tidak diperkenankan menyimpan uang lebih dari 200 ribu di laci tersebut. Karena itu setiap kelebihannya langsung dimasukan ke lemari besi. Setelah si Galih merampas uang itu, Diana langsung mundur ke belakang, ia sangat ketakutan kakinya lemas, hampir jatuh.


“Masa cuma segini?!” bentak si Galih yang kecewa dengan jumlah uang yang ada.

“Buka lemari besinya! Sekarang!” Mereka berdua menggiring Diana masuk ke kantor manajernya dan mendorongnya hingga jatuh berlutut di hadapan lemari besi. Diana mulai menangis, ia tidak tahu nomor kombinasi lemari besi itu, ia hanya menyelipkan uang masuk ke dalam lemari besi melalui celah pintunya.

“Cepat!!!” bentak si Karno,
Diana merasakan pistol menempel di belakang kepalanya. Diana berusaha untuk menjelaskan kalau ia tidak mengetahui nomor lemari besi itu. Untunglah, melihat mata Diana yang ketakutan, mereka berdua percaya.

“Brengsek!!!! Nggak sebanding sama resikonya! Ayo…Iket dia, biar dia nggak bisa panggil polisi!!!” Diana di dudukkan di kursi manajernya dengan tangan diikat ke belakang. Kemudian kedua kaki Diana juga diikat ke kaki kursi yang ia duduki. si Karno kemudian mengambil plester dan menempelkannya ke mulut Diana.

“Beres! Ayo cabut!”
“Tunggu! Tunggu dulu cing! Liat dia, dia boleh juga ya?!”.
“Cepetan! Ntar ada yang tau! Kita cuma dapet 200 ribu, cepetan!”.
“Aku pengen liat bentar aja!”.

Mata Diana terbelalak ketika si Galih mendekat dan menarik t-shirt merah muda yang ia kenakan. Dengan satu tarikan keras, t-shirt itu robek membuat BH-nya terlihat. Payudara Diana yang berukuran sedang, bergoyang-goyang karena Diana meronta-ronta dalam ikatannya.
“Wow, oke banget!” si Galih berseru kagum.
“Oke, sekarang kita pergi!” ajak si Karno, tidak begitu tertarik pada Diana karena sibuk mengawasi keadaan depan toko.

Tapi si Galih tidak peduli, ia sekarang meraba-raba puting susu Diana lewat BH-nya, setelah itu ia memasukkan jarinya ke belahan payudara Diana. Dan tiba-tiba, dengan satu tarikan BH Diana ditariknya, tubuh Diana ikut tertarik ke depan, tapi akhirnya tali BH Diana terputus dan sekarang payudara Diana bergoyang bebas tanpa ditutupi selembar benangpun.

“Jangan!” teriak Diana. Tapi yang tedengar cuma suara gumaman. Terasa oleh Diana mulut si Galih menghisapi puting susunya pertama yang kiri lalu sekarang pindah ke kanan. Kemudian Diana menjerit ketika si Galih mengigit puting susunya.

“diam! Jangan berisik!” si Galih menampar Diana, hingga berkunang-kunang. Diana hanya bisa menangis.
“Aku bilang diam!”, Sambil berkata itu si Galih menampar buah dada Diana, sampai sebuah cap tangan berwarna merah terbentuk di payudara kiri Diana. Kemudian si Galih bergeser dan menampar uang sebelah kanan. Diana terus menjerit-jerit dengan mulut diplester, sementara si Galih terus memukuli buah dada Diana sampai akhirnya bulatan buah dada Diana berwarna merah.

“Ayo, cepetan !”, si Karno menarik tangan si Galih.


“Kita musti cepet minggat dari sini!” Diana bersyukur ketika melihat si Galih diseret keluar ruangan oleh si Karno. Payudaranya terasa sangat sakit, tapi Diana bersyukur ia masih hidup. Melihat sekelilingnya, Diana berusaha menemukan sesuatu untuk membebaskan dirinya. Di meja ada gunting, tapi ia tidak bisa bergerak sama sekali.

“Hey, Brooo! Tokonya kosong!”.
“Masa, cepetan ambil permen!”.
“Goblok Banget lo, cepetan ambil bir tolol!”.

Tubuh Diana menegang, mendengar suara beberapa anak-anak di bagian depan toko. Dari suaranya ia mengetahui bahwa itu adalah anak-anak berandal yang ada di lingkungan itu. Mereka baru berusia sekitar 12 sampai 15 tahun. Diana mengeluarkan suara minta tolong.

“ssssstt! Lo denger nggak?!”.
“Cepetan kembaliin semua!”.
“Ayooo….lari, lari! Kita ketauan!”.


Tiba-tiba salah seorang dari mereka mendongak kan  kepalanya ke dalam kantor manajer. Ia terperangah melihat Diana, terikat di kursi, dengan t-shirt robek membuat buah dadanya mengacung ke arahnya.
“Buset!” berandal itu tampak terkejut sekali, tapi sesaat kemudian ia menyeringai.
“Hei, liat nih! Ada kejutan!”

Diana berusaha menjelaskan pada mereka, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berusaha menjelaskan bahwa dirinya baru saja dirampok. Ia berusaha minta tolong agar mereka memanggil polisi. Ia berusaha memohon agar mereka melepaskan dirinya dan menutupi dadanya. Tapi yang keluar hanya suara gumanan karena mulutnya masih tertutup plester.

Satu demi satu berandalan itu masuk ke dalam kantor. Satu, kemudian dua, lalu tiga. Empat. Lima! Lima wajah-wajah dengan senyum menyeringai sekarang mengamati tubuh Diana, yang terus meronta-ronta berusaha menutupi tubuhnya dari pandangan mereka. Berandalan, yang berumur sekitar 15 tahun itu terkagum-kagum dengan penemuan mereka.

“Gila! Cewek nih!”.
“Dia telanjang!”.
“Tu liat susunya! susu!”.
“Mana, mana Aku pengen liat!”.
“Aku pengen pegang!”.
“Pasti alus tuh!”.
“Bawahnya kayak apa yaaa?!”.

Mereka semua berkomentar bersamaan, kegirangan menemukan Diana yang sudah terikat erat. Kelima berandal itu maju dan merubung Diana, tangan-tangan meraih tubuh Diana. Diana tidak tahu lagi, milik siapa tanga-tangan tersebut, semuanya berebutan mengelus pinggangnya, meremas buah dadanya, menjambak rambutnya, seseorang menjepit dan menarik-narik puting susunya. Kemudian, salah satu dari mereka menjilati pipinya dan memasukan ujung lidahnya ke lubang telinga Diana.

“Ayooo, kita lepasin dia dari kursi!” Mereka k emudianmelepaskan ikatan pada kaki Diana, tapi dengan tangan masih terikat di belakang, sambil terus meraba dan meremas tubuh Diana. Melihat ruangan kantor itu terlalu kecil mereka menyeret Diana keluar menuju bagian depan toko. Diana meronta-ronta ketika merasa ada yang berusaha melepaskan kancing jeansnya.

Mereka menarik-narik jeans Diana sampai akhirnya turun sampai ke lutut. Diana terus meronta-ronta, dan akhirnya mereka berenam jatuh tersungkur ke lantai. Sebelum Diana sempat membalikkan badannya, tiba-tiba terdengar suara lecutan, dan sesaat kemudian Diana merasakan sakit yang amat sangat di pantatnya. Diana melihat salah seorang berandal tadi memegang sebuah ikat pinggang kulit dan bersiap-siap mengayunkannya lagi ke pantatnya!

“Hei….Bangun! Bangun!” ia berteriak, kemudian mengayunkan lagi ikat pinggangnya. Sebuah garis merah timbul di pantat Diana. Diana berusaha berguling melindungi pantatnya yang terasa sakit sekali. Tapi berandal tadi tidak peduli, ia kembali mengayunkan ikat pinggang tadi yang sekarang menghajar perut Diana.

“Bangun! naik ke sini!” berandal tadi menyapu barang-barang yang ada di atas meja layan hingga berjatuhan ke lantai. Diana berusaha bangun tapi tidak berhasil. Lagi, sebuah pukulan menghajar buah dadanya. Diana berguling dan berusaha berdiri dan berhasil berlutut dan berdiri. Berandal tadi memberikan ikat pinggang tadi kepada temannya. “Kalo dia gerak, pukul aja!”

Langsung saja Diana mendapat pukulan di pantatnya. Berandal-berandal yang lain tertawa dan bersorak. Mereka lalu mendorong dan menarik tubuhnya, membuat ia bergerak-gerak sehingga mereka punya alasan lagi buat memukulnya. Berandal yang pertama tadi kembali dengan membawa segulung plester besar. Ia mendorong Diana hingga berbaring telentang di atas meja.

Pertama ia melepaskan tangan Diana kemudian langsung mengikatnya dengan plester di sudut-sudut meja, tangan Diana sekarang terikat erat dengan plester sampai ke kaki meja. Selanjutnya ia melepaskan sepatu, jeans dan celana dalam Diana dan mengikatkan kaki-kaki Diana ke kaki-kaki meja lainnya. Sekarang Diana berbaring telentang, telanjang bulat dengan tangan dan kaki terbuka lebar menyerupai huruf X.

“Waktu Pesta!” berandal tadi lalu menurunkan celana dan celana dalamnya. Mata Diana terbelalak melihat penisnya menggantung, setengah keras sepanjang 17 cm. Berandal tadi memegang pinggul Diana dan menariknya hingga mendekati pinggir meja. Kemudian ia menggosok-gosok penisnya hingga berdiri mengacung tegang.

“Waktunya masuk!” ia bersorak sementara teman-teman lainnya bersorak dan tertawa. Dengan satu dorongan keras, penisnya masuk ke vagina Diana. Diana melolong kesakitan. Air mata meleleh turun, sementara berandal berandal itu mulai bergerak keluar masuk ruangan itu.

Temannya naik ke atas meja, menduduki dada Diana, membuat Diana sulit bernafas. Kemudian ia melepaskan celananya, mengeluarkan penisnya dari celana dalamnya. Plester di mulut Diana ditariknya hingga lepas. Diana berusaha berteriak, tapi mulutnya langsung dimasuki oleh penis berandal yang ada di atasnya.

Langsung saja, penis tadi mengeras dan membesar bersamaan dengan keluar masuknya penis tadi di mulut Diana. Pandangan Diana langsung berkunang-kunang dan merasa akan pingsan, ketika tiba-tiba saja mulutnya dipenuhi cairan kental, yang terasa asin dan pahit sekali . Semprotan demi semprotan masuk ke mulut Diana, tanpa bisa dimuntahkan lagi oleh Diana. Ia terus menelan cairan tadi agar bisa terus bernafas.

Tiba-tiba saja Berandal yang duduk di atas dada Diana turun, lalu berandal memasukkan penisnya ke vagina Diana dan mendorong Diana di pinggir meja lalu menggenjot memek Diana Dengan tempo makin cepat. Ia juga memukuli perut Diana, membuat Diana mengejang dan vaginanya berkontraksi menjepit penisnya. Ia kemudian memegang buah dada Diana sambil terus bergerak makin cepat, ia mengerang-erang mendekati klimaks.

Tangannya langsung meremas dan menarik buah dada Diana ketika tubuhnya bergetar dan sperma tiba-tiba menyemprot keluar, terus-menerus mengalir masuk di vagina Diana. Sedangkan berandal yang lainnya berdiri di samping meja dan melakukan masturbasi, Dan ketika pimpinan mereka mencapai puncaknya mereka juga mengalami ejakulasi bersamaan. Sperma mereka menyemprot keluar dan jatuh di muka, rambut dan dada Diana.

Beberapa saat berlalu dan Diana tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, ketika tahu-tahu ia kembali sendirian di toko tadi, masih terikat erat di atas meja. Ia tersadar ketika menyadari dirinya terlihat jelas, jika ada orang lewat di depan tokonya.

Diana meronta-ronta membuat buah dadanya bergoyang-goyang. Ia menangis dan meronta berusaha melepaskan diri dari plester yang mengikatnya. Setelah beberapa lama mencoba Diana berhasil melepaskan tangan kanannya. Kemudian ia melepaskan tangan kirinya, kaki kanannya. Tinggal satu lagi nih.

“Wah, wah, waaaaah!!!” terdengar suara laki-laki yang berdiri di pintu depan. Diana sangat terkejut dan berusaha menutupi buah dada dan vaginanya dengan kedua tangannya.
“Tolong saya!” ratap Diana.
“Tolong saya Pak! Toko saya dirampok, saya diikat dan diperkosa Pak! Tolong saya Pak, cepat panggilkan polisi!”
“Nama lu Diana kan?” tanya laki-laki tadi.

“Ba…bagaimana bapak tahu nama saya?” Diana bingung dan takut.
“Aku Andre. Orang yang dulunya kerja di toko ini sebelum kau rebut!”.
“Tapi saya tidak merebut pekerjaan bapak. Saya tahunya dari iklan di koran. Saya betul-betul tidak tahu pak! Tolonglah saya pak!”.
“Gara-gara kamu ngelamar ke sini Aku jadi dipecat! Aku nggak heran kamu diterima kalo liat bodi mu”.

Diana kembali merasa ketakutan saat melihat Andre, seseorang yang belum pernah dilihat dan dikenalnya tapi sudah membencinya. Diana kembali berusaha melepaskan ikatan di kaki kirinya, membuat Raoy naik pitam. Ia menyambar tangan Diana dan menekuknya ke belakang dan kembali diikatnya dengan plester, dan plester itu terus dilitkan sampai mengikat ke bahu, hingga Diana betul-betul terikat erat. Ikatan itu membuat Diana kesakitan, ia menggeliat dan buah dadanya semakin membusung keluar.

“Lepaskan!!!! Sakit!!!! aduuhh!!!! Saya tidak memecat bapak!!!! Kenapa saya diikat Pak?!!”
“Sebenarnya Aku tadinya mau ngerampok nih toko, cuma kayaknya Aku udah keduluan. Jadi baiknya Aku rusak aja deh nih toko”.
Ia kemudian melepaskan ikatan kaki Diana sehingga sekarang Diana duduk di pinggir meja dengan tangan terikat di belakang. Dan diikatnya lagi dengan plester.

Dan Andre mulai menghancurkan isi toko itu, etalase dipecahnya, rak-rak ditendang jatuh. Lalu Andre juga menghancurkan kotak pendingin es krim yang ada di kanan Diana. Es krim beterbangan dilempar oleh Andre. Beberapa di antaranya mengenai tubuh Diana, kemudian meleleh mengalir turun, melewati punggungnya masuk ke belahan pantatnya.

 Di depan, Es tadi mengalir melalui belahan buah dadanya, turun ke perut dan mengalir ke vagina Diana. Rasa dingin langsung menempel di buah dada Diana, membuat putingnya mengeras san mengacung. Ketika Andre selesai, tubuh Diana bergetar kedinginan dan lengket karena es krim yang meleleh.

“Kamu keliatannya kedinginan!” ejek si Andre sambil menyentil puting susu Diana yang mengeras kaku.
“Aku harus ngasihh kamu sesuatu yang anget.”

Andre kemudian mendekati wajan untuk mengoreng hot dog yang ada di tengah ruangan. Diana melihat Andre mendekat membawa beberapa buah sosis yang berasap.

“Jaaaangaann!” Diana berteriak ketika Andre membuka bibir vaginanya dan memasukan satu sosis ke dalam vaginanya yang terasa dingin karena es tadi. Kemudian ia memasukan sosis yang kedua, dan ketiga. Sosis yang keempat putus ketika akan dimasukan. Vagina Diana sekarang diisi oleh tiga buah sosis yang masih berasap. Diana menangis karena kesakitan akibat uap panas dari sosis tersebut.

“Keliatannya nikmat Nih….Ha..Ha…!” Andre tertawa.
“Tapi Aku lebih suka bermain dengan mustard!” Kemudian Ia mengambil botol mustard dan menekan botol itu.

Cairan mustard langsung keluar menyemprot ke vagina Diana. Diana menangis terus, melihat dirinya disiksa dengan cara yang tak terbayangkan olehnya.
Sambil tertawa Andre melanjutkan usahanya dengan menghancurkan isi toko itu. Diana berusaha melepaskan diri, tapi tak berhasil. Nafasnya sangat tersengal-sengal, ia tidak kuat menahan semua ini. Tubuh Diana bergerak lunglai jatuh.

“Hei!! Kamu kalo kerja jangan tidur!” bentak Andre sambil menampar pipi Diana.
Kamu tau nggak, daerah sini nggak aman jadi perlu ada alarm.”

Dianapun meronta ketakutan melihat Andre yang memegang dua buah jepitan buaya. Jepitan itu bergigi tajam dan jepitannya sangat keras sekali. Andre segera mendekatkan satu jepitan ke puting susu kanan Diana, menekannya hingga terbuka dan melepaskannya hingga menutup kembali menjepit puting susu Diana.

Diana menjerit dan melolong kesakitan, gigi jepitan tadi menancap ke puting susunya. Kemudian Andre juga menjepit puting susu yang ada di sebelah kiri. Air mata Diana bercucuran di pipi.

Kemudian Andre mengikatkan kawat halus di kedua jepitan tadi, lalu mengulurnya dan kemudian mengikatnya ke pegangan pintu masuk. Ketika pintu itu didorong Andre hingga membuka keluar, Diana merasa jepitan tadi tertarik oleh kawat, dan membuat buah dadanya tertarik dan ia menjerit kesakitan.

“Nah…..,Hmmm… udah jadi. sekarang pintu depan ini bisa buka ke dalem ama keluar, tapi bisa juga disetel cuma bisa dibuka dengan cara ditarik bukan didorong. Jadi Aku sekarang pergi dulu, terus nanti Aku pasang biar pintu itu cuma bisa dibuka kalo ditarik. Nanti kalo ada orang dateng, pas dia dorong pintu kan nggak bisa, pasti dia coba buat narik tuh pintu, nah, pas narik itu alarmnya akan bunyi!”

“Jaaaaaangan! saya mohoon! Jangan! jangan! jangan! ampun!”
Andrepun tidak peduli, ia keluar dan tidak lupa memasang kunci pada pintu itu hingga sekarang pintu tadi hanya bisa dibuka dengan ditarik. Dianapun menangis ketakutan, Dan puting susunya sudah hampir rata, dijepit. Ia terlihat meronta-ronta berusaha melepaskan ikatan. Tubuh Diana berkeringat setelah berusaha melepaskan diri tanpa hasil.

Beberapa saat kemudian terlihat sebuah bayangan di depan pintu, Diana melihat ternyata bayangan itu milik gelandangan yang sering lewat dan meminta-minta. Gelandangan itu melihat tubuh Diana, telanjang dengan buah dada mengacung. Segera saja Gelandang itu mendorong pintu masuk. Pintu itu tidak terbuka. Si Gelandangan langsung meraih pegangan pintu dan mulai menariknya.

Diana langsung menjerit “Jangan! jangan! jangan buka! jangaann!”, tapi gelandangan tadi tetap menarik pintu, yang kemudian menarik kawat dan menarik jepitan yang ada di puting susunya. Gigi-gigi yang sudah menancap di daging puting susunya tertarik, merobek puting susunya. Diana menjerit keras sekali sebelum jatuh di atas meja. Pingsan.

Tapi Diana tersadar dan menjerit. Sekarang ia berdiri di depan meja kasir. Tangannya terikat ke atas di rangka besi meja kasir. Dan kakinya juga terikat terbuka lebar pada kaki-kaki meja kasir. Ia merasa kesakitan. Puting susunya sekarang berwarna ungu, dan menjadi sangat sensitif. Udara dingin saja membuat puting susunya mengacung tegang.

Memar-memar menghiasi seluruh tubuhnya, mulai pinggang, dada dan pinggulnya. Diana merasakan sepasang tangan berusaha membuka belahan pantatnya dari belakang.

Sesuatu yang dingin dan keras berusaha masuk ke liang anusnya. Diana menoleh ke belakang, dan ia melihat gelandangan tadi berlutut di belakangnya sedang memegang sebuah botol bir.

“Ja…Jangan, ampun! Lepaskan saya pak! Saya sudah diperkosa dan dipukuli! Saya tidak tahan lagi.”
“Habisnya pantat Mbak kan belom diituin.” gelandangan itu berkata tidak jelas.
“Jangaaaaan!” Diana meronta, ketika penis si gelandangan tadi mulai berusaha masuk ke anusnya. Setelah beberapa kali usaha, gelandangan tadi menyadari penisnya tidak bisa masuk ke dalam anusnya Diana. Lalu ia langsung berlutut lagi, mengambil sebuah botol bir dari rak dan mulai mendorong dan memutar-mutarnya masuk ke liang anus Diana.

Diana menjerit-jerit dan meronta-ronta ketika leher botol bir tadi mulai masuk dengan keadaan masih mempunyai tutup botol yang berpinggiran tajam. Liang anus Diana tersayat-sayat ketika gelandangan tadi memutar-mutar botol dengan harapan liang anus Diana bisa membesar. Setelah beberapa Lama tiba-tiba gelandangan tadi mencabut botol tersebut. Tutup botol bir itu sudah dilapisi darah dari dalam anus Diana, tapi ia tidak peduli. Gelandang itu kembali berusaha memasukan penisnya ke dalam anus

Diana yang sekarang sudah membesar karena dimasuki botol bir. Gelandangan tadi mulai bergerak kesenangan, rasanya sudah lama sekali ia tidak meniduri perempuan, ia bergerak cepat dan keras sehingga Diana merasa dirinya akan terlepar ke depan setiap gelandangan tadi bergerak maju. Diana terus menangis melihat dirinya disodomi oleh gelandangan yang mungkin membawa penyakit kelamin,

tapi gelandangan tadi terus bergerak makin makin cepat, tangannya meremas buah dada Diana, membuat Diana menjerit karena puting susunya yang terluka ikut diremas dan dipilih-pilin.

Akhirnya dengan satu erangan, gelandang tadi orgasme, dan Diana merakan cairan hangat mengalir dalam anusnya, sampai gelandangan tadi jatuh terduduk lemas di belakang Diana.

“Makasih yaaa Mbak! Saya puas sekaliiiii! Makasih.” gelandangan tadi melepaskan ikatan Diana. Kemudian ia mendorong Diana duduk dan kembali mengikat tangan Diana ke belakang, kemudian mengikat kaki Diana erat-erat. Kemudian tubuh Diana didorongnya ke bawah meja kasir hingga tidak terlihat dari luar.

Sambi terus mengumam terima kasih Dan sigelandangan tadi berjalan sempoyongan sambil membawa beberapa botol bir keluar dari toko. Diana terus saja menangis, merintih merasakan sperma gelandangan tadi mengalir keluar dari anusnya. Lama kemudian Diana jatuh pingsan karena kelelahan dan shock Berat. Dan tersadar ketika Ia ditemukan oleh rekan kerjanya yang masuk pukul 7 pagi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*