Cerita Dewasa Hasrat Sex Ku Yang Memudar Kembali Memuncak

Cerita Dewasa Hasrat Sex Ku Yang Memudar Kembali Memuncak

Cerita Dewasa –  Nama Saya Indah Putri (28 tahun) tapi biasa disapa dengan nama kecil saya Putri, sekarang saya sudah berumah tangga namun belum dikaruniai anak oleh yang diatas, mungkin ini karena saya yang dulunya sangat suka mempermainkan perasaan dan pusaka lelaki sehingga dengan suami saya yang sekarang sangat susah mendapatkan anak padahal sudah kami cek kedokter dan dokter menyatakan kami tidak memiliki masalah di kualitas indung telur maupun kualitas sp*rm* suami saya, dokter hanya menyatakan kalau kami berdua terlalu capek dengan pekerjaan kami yang adalah seorang bisnisman dan seorang wanita pemilik butik dan kos2an.
Kalau saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkannya karena umur saya juga baru menginjak kepala 3 bulan kemarin. Sebenarnya untuk masalah seks rumah tangga kami baik2 saja hanya tidak seperti waktu saya masih singgle dulu. Kalau dulu saya sering melakukannya mungkin dalam seminggu ada 4-5 kali namun setelah menikah 5 tahun yang lalu saya hanya seminggu sekali itupun kalau suami saya tidak sibuk kalau sibuk bisa 2 minggu. Memang untuk target memiliki anak kami sudah tidak menggebu-gebu, karena sudah 2 tahun ini kami pasrah pada Tuhan dan keadaan saja. Suami saya juga tidak buruk diranjang dan dia dapat memuaskan saya dengan berbagai gaya seks yang variatif hanya saja saya masih kurang puas dengan bentuk penis suami saya yang terbilang kecil, dan sejak dulu saya selalu mengimpikan penis lelaki yang besar dan panjang mungkin itulah yang mengawali kisah ini. Oke mungkin itu gambaran umum tentang saya dulu, nah sekarang kita maju yang lebih spesifik oke.

Sebagai mantan model dan memang seorang primadona di sekolah maupun di kampus gue masih memiliki potensi tersebut, saya dikaruniai badan yang semok, terlebih di bagian Dada dan bokong, bukan hanya itu saja saya juga bisa di bilang memiliki wajah yang cantik dan tentunya menggoda bagi pria-pria disekitar saya,diusia yang kepala 3 ini hanya saya sajalah yang masih terlihat seksi dan menawan dibanding teman2 saya yang sudah memiliki anak, mungkin ini juga karena perawatan penuh yang saya lakukan baik diluar maupun didalam, dengan kulit putih dan rambut sebahu saya yakin banyak pria yang akan jatuh hati pada saya, dengan semua yang ada pada diri saya memang membuat siapapun akan iri baik itu wanita atau pria, namun jujur saja saya masih belum puas dengan permainan seks di rumah tangga kami terlebih ukuran yang menjadi batu hambatannya, padahal kalau mau di bilang saya orangnya hiper terhadap seks. Okey sekian untuk deskripsi pribadinya sekarang ke ceritanya yah.

Hasrat seks yang memudar 2 tahun ini di diri saya kembali memuncak setelah kami membuat sebuah kos-kosan kebetulan tukang yang mengerjakannya adalah tetangga saya yang tak jauh dari rumah. Setelah kos-kosannya dibangun memang terlihat sangat bagus walau hanya dikerjakan 3 orang saja, yah mereka bertiga adalah pak Arif, pak rahman dan Nurdin anak pak Arif. Karena pekerjaan yang memuaskan itu saya jadi sering memakai jasa merekauntuk pertukangan, nah kebetulan dirumah kami yang terpisah dari kos-kosan yang jaraknya 500m sedang dalam renovasi kembali tembok pembatas antara rumah kami dengan tetangga roboh karena tanah yang kurang bagus menopang. Karena itulah saya memanggil pak Arif dkk, namun waktu itu hanya Nurdin anak pak Arief yang ada sedangkan 2nya lagi sedang ada proyek, dari pada menunggu lama akhirnya saya yang waktu itu lagi ditinggal suami pergi keluar negeri untuk bisnisnya menyetujui Nurdin untuk bekerja sendirian walaupun membutuhkan waktu 3 hari untuk menyelesaikannya. Nurdin ini masih berusia 20 Tahun namun karena sering ikut bapaknya sebagai tukang bentuk tubuhnya terlihat besar berotot dan berwajah cukup lumayan, kalau dikasih nilai yah 7 lah. Nah awal pekerjaannya sebenarnya saya nggak terlalu memperhatikan karena kesibukan kerja saya namun waktu itu karena rumah kami yang sengaja dibuat tak terlalu besar tanpa satpam (karena masuk kawasan kompleks yang satpamnya sudah tersedia) serta pembantu yang hanya datang saat pagi saya memutuskan untuk pulang cepat, takut kalau ada apa2 dirumah, nah siang itu sekira pukul 3 siang saya tiba dirumah dengan keadaan siNurdin sedang bekerja kebetulan tembok yang roboh itu tepat dihalaman belakang yang dibatasi kaca pemisah antara belakang dengan ruang keluarga, ruang untuk menonton. Masih dengan menggunakan rok dan setelan khas wanita karier saya memperhatikan si Nurdin yang sedang bekerja, entah mengapa saya merasa horny saat itu karena si Nurdin yang tidak memakai baju alias telanjang dada dengan keringat yang membasahi otot tubuhnya, nah yang membuat gue tambah terkejut lagi saat baru saja sang pemilik rumah tiba si Nurdin yang sedang bekerja membelakangi saya yang diruang keluarga sepontan mencari tempat dengan gaya yang seperti terburu-buru Nurdin berlari kesebuah pojokan yang terdapat selokan kecil tempat air keluar dengan posisi menyamping kearah saya, dari dalam saya bisa liat dengan sangat jelas bagaimana Nurdin melorotkan celana dan cdnya lalu dengan wajah seperti kegelian dan gemetaran Nurdin menarik keluar senjata pusakanya yang hitam legam degan kepala berwarna merah yang masih terkolek lemah namun terlihat mengantung panjang nan besar, lalu mengeluarkan cairan.

penis yang selama ini gue impikan tepat berada dimata gue’
Seluruh badan gue gemetar melihat aksi Nurdin yang tak menyadari ada sepasang mata memperhatikannya hingga selesai. Tiba-tiba tubuh ini bergejolak hasrat selama beberpa tahun yang terpendam muncul lagi. ‘Sial gue Horny nih, mana suami gue pergi lagi’ akhirnya karena merasa tak kuat gue langsung menuju kamar gue dan dengan cepat gue melorotkan cd gue dan menaikan rok gue, sambil duduk ditepian tempat tidur gue mulai merangsang organ intim gue yang halus tak berbulu, jari gue memainkan klitoris gue yang sudah basah akibat cairan m*m*k gue yang sudah mulai bereaksi, tangan gue yang satunya tak tinggal diam sambil merangsang m*m*k gue tangan gue yang satunya mulai meremas dan memelintir toket gue, gue lalu membayangkan bagaimana gue berhubungan seks, namun yang keluar di imajinasi gue adalah penis Nurdin yang besar panjang dan hitam itu sedang masuk keluar m*m*k gue membuat gue meracau sejadinya dan dengan hentakan-hentakan penisnya gue merasa terbang diawang-awang.
‘uhhhhhhhh’ lenguh gue panjang ketika gue mengalami orgasme akibat rangsangan di m*m*k gue. Beberapa menit gue mulai mengatur nafas dan sejenak beristerahat dari masturbasi yang gue lakukan. 30 menit kemudian gue lalu keluar dengan baju yang masih sama namun tanpa daleman yang digunakan untuk membersihkan m*m*k gue dari cairan orgasme gue. Gue lalu menemui Nurdin yang memang jam kerjanya sudah selesai dan pamit untuk pulan.
‘ibu saya pamit pulang dulu yah, besok saya datang lagi jam 9’
‘oh ya Nurdin, hati-hati’ kata gue yang kembali horny melihat Nurdin mata gue tak lepas dari celana jeans pendek miliknya yang sedikit menonjolkan tonjolan didepannya.

Setelah Nurdin pergi malam itu gue jadi susah tidur karena kepikiran tentang kejadian tadi.
‘sial kok gue kepikiran yah’ gue mulai berfantasi macam2 dalam pikiran gue.
‘enak nggak yah kalau penis itu masuk ke m*m*k gue’ kata gue dalam hati. Gue memang menjadi salah tingkah, gue mulai bercermin dengan berdiri. Terlihat sebuah tubuh yang sintal montok dengan balutan gaun tidur merah muda berdada rendah memperlihatkan lipatan toket gue yang besar dibalut bra berukuran 36C.
‘mmmhh.. tubuh ini masih kencang, sayang kalau nggak diapa-apain, m*m*k ini pun masih terlihat haus akan penis’ pikir gue sambil memandang tubuh gue.
‘udah ngak apa2 sekali ini aja, gue pengen merasakan penis impian gue’ kata gue dalam hati dengan ditutup dengan masturbasi membayangkan Nurdin sedang memompakan penisnya. Gue lalu tertidur dengan sejuta perasaan menyelimuti hati dan m*m*k gue. Paginya tiba dan gue tak berangkat ke butik gue karena gue punya rencana lain hari ini, tepat jam 9 Nurdin datang dengan terlebih dahulu mbok Imas datang ke rumah gue memasakan makanan dan mengerjakan pekerjaan rumah, hingga pukul 11.

‘Udim makan dulu’ ajak gue padanya yang sedang bekerja diterik matahari, sementara bu Imas berpamitan untuk pulang kerumahnya.
Nurdinpun membersihkan dirinya mencuci tangannya lalu menuju meja makan dimana gue sudah menunggunya duduk manis.
‘ayo makan’ kata gue sambil mengambilkan nasi dan sayur sementara lauk diambil Nurdin sendiri.
Nurdin terlihat gerogi, mungkin karena tampilan gue yang berbeda pagi ini, karena dengan jelas ia dapat melihat belahan dada gue yang dibalit bra dan gaun tidur sutra serta paha mulus gue yang gue perlihatkan ke Nurdin sebagai rangsangan awal. Nurdinpun makan dengn lahap namun terkadang tertahan melihat gue yang berusaha menggodanya dengan tubuh gue, entah itu sengaja gue mencondongkan toket gue atau menyilangkan kaki gue sehingga ia dapat melihat lewat meja kaca bagaimana keindahan paha semok gue. Gue lalu mulai mengobrol dengan dia mengenai keluarga dan hal umum lainnya. Dan dia juga sudah terlihat rileks walaupun matanya nggak berhenti mencuri pandang kearah gue yang sudah horny.

 ‘kamu kenapa Din sakit’ kata gue sambil memegang tanganya.
‘tidak bu’ jawabnya singkat. Gue mulai mengerti ternyata ia demam wanita.
‘din kamu bisa bantu ibu nggak’ tanya gue.
‘bantu apa bu’
‘mudah aja kok din,gimana’ kata gue sambil meremas tangannya
‘iya bu’ jawabnya yang nggak mengerti maksud gue.
‘gini din kemarin sewaktu pulang ibu liat kamu kencing dipojokan, ibu liat pusaka mu’
‘ahh maaf bu, saya ngggak tahu kalau ibu sudah pulang, maaf bu’
‘nggak apa2 kok din, hanya saja, boleh nggak ibu liat sekali lagi, boleh yah?’
‘haa…’ jawabnya kaget.
‘iya din, ibu soalnya jadi kepikiran melihat pusakamu, boleh yah’ kata gue kali ini meremas tangannya.
Dia hanya terdiam tanpa bisa menjawab.
‘kalau diam berarti boleh yah’ kata gue sambil berdiri menuju kearahnya.
‘tapi bu nanti’ katanya yang belum habis lalu sudah gue potong.
‘ngak apa2 kok din, nggak ada yang liat’ kata gue sambil menuntunnya berdiri lalu dengan cepat gue melorotkan celananya yang bernahan kain dan terlihat gundukan berbalut cd.
‘ibu buka yah’ kata gue tanpa menunggu persetujuannya.
Dan meloncatlah sebuah benda tumpul yang mulai mengeras, benda tersebut terlihat hitam dengan kepala merah.
‘wow din pusakamu,’ kata gue yang terpana karena kali ini bisa melihat penis Nurdin yang mulai mengeras tanpa disentuh. Gue dan Nurdin saling berhadapan dengan jarak yang dekat sementara penisnya sudah menegang sempurna dan mengacung keras hanya beberapa cm dari atas perut gue yang memiliki selisih tinggi yang cukup banyak dengan Nurdin.
‘kamu apakan penismu din, kok bisa besar gini’ tanya gue yang masih tanpa jawaban entah karena gugup ata kaget dengan pelakuan gue.
‘kamu sering main yah, makanya jadi hitam penismu ini’
‘ahh.. ahh nggak kok, hanya sama pacar aja’ ia mulai berbicara.
‘uhh beruntungnya pacarmu dapat penis besar ini, ibu boleh mengang’ kata gue yang masih tidak dijawabnya.
‘kalau nggak dijawab berarti ia yah’ kata gue yang langsung menyentuh batang penisnya sambil diremas gemas dan dikocok perlahan. Nurdin terlihat begitu menikmati kocakan perlahan gue dengan remasan gemasnya.
‘din ibu udah kepikiran seharian dengan penismu, kamu mau nggak bantuin ibu, punya ibu nggak pernah dimasukin penis besar mau nggak kamu masukinnya’
‘iya bu saya mau’ katanya yang sudah tak malu lagi berbicara.
‘oke terimakasih yah di’ gue dengan senyuman nafsu gue. Gue terus mengocok penis Nurdin dengan gemesnya sementara ia terliahat begitu menikmati.
‘din ibu isep yah penismu’
‘ia bu isepin bu’ katanya yang menekan pundak gue sambil ia juga kembai duduk dikursinya.
‘slurrpp..slurrrppp.. ckhckchckh’ mungkin begitu bunyi hisapan gue dengan liur yang menetes banyak diselangakangan Nurdin, penisnya yang besar begitu sesak memasuki mulut gue beberapa kali ia mengelinjang karena lubang pipisnya gue jilatin, kedua bolanya juga tak luput dari incaran gue, mhhh sungguh penis Nurdin membuat mulut gue bekerja lebih dari biasanya.
‘isepannya enak banget bu’ katanya yang tak gue hiraukan karena asik dengan penisnya. Setelah puas dengan penisnya gue lalu membuka gaun gue dan melepas bra gue dan meloncatlah kedua gunung kembar berputing kecoklatan.
‘bu besar banget susunya’ kata udim memuji toket gue.
‘makasih din, sini penismu ibu servis pake ini’ kata gue kembali berlutut dan mulai menjepit penisnya, lalu gue kocok hingga kepala penisnya tenggelam keluar ditoket gue sedangkan lidah gue menjulur keluar menanti kepala penisnya yang sesekali gue isep dan jilatin.
Saat sedang menekan toket gue untuk mengapit penisnya, Nurdin lalu mulai aktif jarinya mulai memilin puting gue yang sudah tegang. Sungguh lihai Nurdin dalam memainkan puting gue, karena memang salah satu tempat sensitif gue adalah puting gue ia memainkannya bak sudah sangat berpengalaman. Karena capek akhirnya gue berhenti memainkan penis Nurdin dan gantian Nurdin yang memainkan toekt gue.
‘yah din gitu, kamu pintar banget.. ssshhhhh’
‘bu susunya besar sekali, Nurdin suka, boleh Nurdin isep’
‘boleh sayang’ kata gue yang langsung berdiri lalu kembali duduk dipangkuan Nurdin diatas kursi kayu sambil berhadapan, toket gue dilumat siNurdin dengan senangnya ia memainkan dan meremas toket gue, sementara gue mengocok penisnya perlahan tepat didepan perut gue mengacung keras keatas.
‘gimana din enak’ kata gue.
‘enak bu, besar puting dan susunya sering diisap yah’ katanay menanyakan.
‘kamu tahu aja din, enakan mana sama pacarmu’
‘enakan punya ibulah harum dan legit’ katanya sambil menghisap bergantian puting susu gue.
‘enak sayang isapin yang keras,,, ahhh yahhh gitu oh godd yahhh’ racau gue.
‘din ibu udah horny banget nihh, masukin sekarang yah’ pinta gue yang sudah horny karena dikerjain di toket gue.
‘sabar bu, aku pengen ngerasian rasa m*m*k tante-tante’ kata Nurdin dengan vulgarnya.
‘ihh nakal kamu yah’ kata gue diselilingi tawa.
‘owww’ kata gue yang kaget karena dengan mudahnya Nurdin mengangkat tubuh gue yang sedang diatasnya, gue lalu berpegangan erat dilehernya.
‘mau dibawa kemana tante ini’ kata gue yang mengganti kata ibu dengan tante.
‘tenang aja bu, kita cari tempat nyaman’ katanya.
‘jangan ibu dong, panggil aja tante yah lebih gimana gitu’
‘ia tante’ katanya.

Gue lalu di bopongnya menuju ruang keluarga yang terdapat sofa panjan lalu didudukannya gue disana, setelah itu dengan cepat Nurdin menarik celana dalam gue yang sudah basah dengan cairan pelumas gue karena horny berat. Gue sengaja menutup m*m*k gue dengan tangan gue biar ada efek sensualnya.
‘kok ditutup bu’ katanya.
‘jangan ibu dong, tante’ kata gue menegaskan.
‘kamu buka bajumu dong masak tante bugil sendiri’
Lalu Nurdin membuka bajunya setelah mendengar instruksi gue, otot perut yang sudah terbentuk 4 kotak dengan otot lengan yang kuat terpampang didepan gue, bau khas keringat menambah nafsu gue.
‘uhhh mulus banget m*m*knya tante’ kata Nurdin ketika ia membuka selangkangan gue dan megangkat tangan gue dari menghalau m*m*k gue sendiri. Ia lalu berlutut dengan posisi siap menikmati m*m*k gue.
‘lidahnya mulai ia julurkan menyentuh klitoris gue, dan dengan sedikit hisapan ia memainkan m*m*k gue.
‘uhhh ahhh.. yahh yees ohhhhhh uhhhhhh yahh isep terusssss..’ racauan gue membuat ruangan penuh dengan desahan sensual gue. Nurdin sangat lihai merangsang gue dengan mulut dan jarinya ia menghisap dan meremas puting tergadang jarinya masuk memainkan m*m*k gue.
‘di berhenti dulu mau keluar nihhh’ kata gue yang bukannya dihentikan malas semakin gencar dimainkannya.
‘ahhh dinn ahhh yahhh ahhhhhhhhhhhhhhh’ lenguhan gue terakhir yang panjang membuat gue terbang karena aliran orgasme gue keluar begitu dahsyatnya, kedua kaki gue menjepit kepala Nurdin yang masih menghisap cairan dim*m*k gue.
‘ha… haaa.. haaa…’ gue menikmati orgasme gue dengan nafas yang memburu seperti baru lari maraton.
‘enak banget din’ kata gue memuji Nurdin.
‘punya tante juga enak banget, jarang dipakai yah’
‘iya din makanya tante butuh bantuanmu’ kata gue yang masih lemas.
‘’tenang aja tante Nurdin pasti bantu’
‘makasih yah sayang’ kata gue sambil nyosor melumat bibir Nurdin yang sudah duduk disamping gue, kami berciuman ala frenchkiss saling membelit satu sama lain, Nurdin masih terlihat kaku dengan permainan ini.
‘kenapa di’ tanya gue
‘nggk kok cuman jarang dicium sama wanita cantik’
‘ahh kamu udah nikmatin bawahny masak masih kaku sama atasnya’
‘maklum tante’
‘din masukin sekarang’ kata gue sambil meremas penisnya dan mengocoknya perlahan menatap dalam matanya seperti meminta-minta.
‘tante udah konak lagi’ katanya kaget.
‘udah nihhh, udah basah lagi’ kata gue

Nurdin yang sudah mengerti lalu membaringkan gue disofanya dengan keadaan menyamping, sementara ia dibelakang gue tidur menyamping juga. Kaki gue yang satunya tergantung dibawah yang satuny diangkat Nurdin.
‘mhhhhh’ gue menggigit bibir bawah gue saaat merasakan kepala penis Nurdin mulai mrnyrntuh bibir m*m*k gue. Dengan dibantu tangannya penis Nurdin mulai mengesek-gesek m*m*k gue.
‘sayang pelan2 yah nggak pernah dimasukin sebesar ini’
‘ia.. tante tenang aja, pasti ennak kok’ kata Nurdin yang perlahan mulai menekan kepala penisnya masuk dalam m*m*k gue.
‘uhhhhhh’ erang gue pelan saat kepala penisnya berhasil masuk perlahan ke m*m*k gue dan perlahan ia mendorong batangnya.
‘din muat nggak’ kata gue khawatir dengan ukurannya.
‘muat kok tante’ kata Nurdin yang terus menusukan penisnya.
Dan ‘blessssss’ m*m*k gue terasa penuh dengan penis Nurdin yang sudah masuk sepenuhnya terasa berbeda ketika penis suami gue yang ada didalam yang ini sangat besar dan panjang.
Nurdin mulai dengan menggerakan perlahan berusaha agar m*m*k gue terbiasa dengan benda pusakanya.
‘memang hebat punya tante ini terasa sempit’ kata Nurdin memuji m*m*k gue yang memang selalu gue rawat dengan berbagai cara dan obat alami.
‘sshhhh ahhh shhh ahhhh yahh din’ racau gue saat penis Nurdin bergerak keluar dan masuk m*m*k gue. Rasa gatal mulai menjalar dim*m*k gue kini bukan Nurdin saja yang bergerak tapi gue juga ikut bergerak mengimbangi permainan Nurdin yang masih slow. Tangan Nurdin yang satunya meremas toket gue dari bawah tubuh sedangkan yang satunya gue isap jari-jarinya masuk dalam mulut gue.
‘din dicepetin lagi di’ pinta gue yang langsung direspon Nurdin dengan ememgang pinggul gue dan mulai mempercepat keluat masuk penisnya.
‘yahh gitu dinn.. yah tambah lagiii yahh uhhh ahhh ohhh’ racau gue perlahan kecepatan permainan kami bertambah dan.
‘plakkk..plakkk.. plakkkk’ bunyi bokong gue berbenturan dengan selangkangan Nurdin. Kini penisnya sudah keluar masuk secara leluasa dim*m*k gue.
‘ohhh sayang enak banget’ kata gue sambil meracau sejadinya. Kami bermain dengan posisiini sekitar 5 menit hingga akhirnya Nurdin berhenti mengerakan pinggulnya.
‘kok berhenti sayang’ kata gue yang kurang puas karena sedang dalam kondisi On.
‘sabar tante kita ganti gaya yah’ katanya yang langsung bangun tanpa melepaskan penisnya. Ia membuat gue berlutut diatas sofa sambil tangan gue ia tarik kebelakan dan dari belakang ia mulai menyodokan penisnya, kali ini penisnya lebih terasa masuk dan keluar memenuhi m*m*k gue.
‘ahhh pintar kamu sayang.. yahhh sshhhh’ kata gue yang memuji kepintaran Nurdin.
Dengan tubuh yang bergoncang Nurdin menyodokan penisnya secara cepat dan dengan tempo yang sudah tak beraturan lagi, toket gue terguncang tak menentu. Posisi kami bak kerete dorong dengan tangan gue sebagai pusatnya. Nurdin begitu cepat memompakan penisnya hingga akhirnya ia menghentakan penisnya dalam2 kem*m*k gue.
‘ooooooohhhhhhhhh’ lenguhan panjang gue bukan Nurdin memenuhi ruangan tersebut, gue merasakan orgasme kedua kalinya dengan yang kedua penis Nurdin didlam m*m*k gue. Nurdin melepaskan tangan gue dan memeluk gue dari belakang dengan meremas toket gue sementara penisnya masih tertancap megah di m*m*k gue.
‘gimana tante’ tanyanya
‘enak banget din, ini orgasme terliar selama tante menikah din’
‘m*m*k tante juga enak empotannya terasa banget’
‘penismu luar biasa, masih belum kendor tuhh padahal udah keluar’ kata gue dengan senyuman.
‘belum tante, Nurdin belum keluar’
‘hhaaa.. kamu belum keluar, trus kenapa kamu tancepin penismu tadi kalau belum keluar’
‘aku tahu tante mau keluar, makanya aku tancepin’
‘kok kamu bisa tahu din’
‘ia dong tante habis terasa sekali empotannya’
‘kamu tuh yahh bisa tau dari gituan’
‘ia tante m*m*k tante lebih enak dari pacarku makanya aku tau’
‘lebih enak yah, itu karena nggak pernah m*m*k tante rasain penis besar kayak gini, pacarmu tiap hari kamu kasih gini pantes beda lah’
‘hehehe’ Nurdin tertawa.
‘trus gimana kamu’
‘dikit lagi nihh tante’
‘yaudah sana baring’ kata gue menyuruhnya untuk berbaring.
Nurdin lalu mencabut penisnya dari m*m*k gue dan terasa cairan cinta gue turun membasahi paha dalam gue karena tertahan penis Nurdin yang tak sempat keluar.

Nurdin duduk sambil bersandar disofa sementara gue mulai mengambil posisi duduk diatasnya WOT dalam posisi duduk.
‘tante seksi banget kayak gini’
‘kamu tuh pinter mujinya’ kata gue yang melumat bibir Nurdin.
‘ahhhhhhhhh’ erang gue saat penis Nurdin gue arahkan dan masukan dalam m*m*k gue.
‘uhhh tante enak banget’ katanya saat pinggul gue memutar dan membuat penisnya juga ikut memutar dalam m*m*k gue. Gue mulai gerakan naik turun diatas penisnya membuat dia merasa keenakan diservis tante sange kayak gue.
‘tante enak… terusss..’ katanya yang mulai merasa keenakan..
Tak berapa lama gue merasakan penisnya semakin membesar pertanda dia sudah mulai memasuki puncaknya gue berusaha untuk mengapai puncak bersama.
‘sayang isepin puting tante’ kata gue agar terjadi ransangan di kedua daerah sensitif gue.
Nurdin melakukan perintah gue dan gue juga mulai menurunkan permainan biar dia nggak ngecrott duluan.
‘tante terus dong’ protesnya.
‘iya sayang keluarnya bareng yahhh’
‘boleh aku keluarin didalam’
‘ia sayang keluarin didalam’
‘nanti kalau hamil’
‘sekalian hamilin tante sayang’ kata gue yang sudah tahu kalau gue itu susah untuk hamil.
Kembali gue menguncang tubuhnya yang dibalas erotis oleh suaranya dan suara gue serta keringat kami yang saling membasahi satu sama lainnya.
Nurdin lalu menekan tubuh gue sambil memeluk gue, sementara penisnya menyemburkan peju hangat yang begitu banyak tertumpah dlam m*m*k gue.
‘croottt.crottt.croottt’ beberapa kali penisnya menyemprotkan cairan putih kental yang akhirnya gue balas dengan mencengramnya serta lenguhan panjang kami.
‘aaahhhhhhhhhhhhhhhh’ gue mengalami orgasme yang ketiga tergolek lemas diatas tubuh berotot Nurdin.
Kami berhenti sejenak hingga penis Nurdin mengecil dan keluar dari m*m*k gue membawa banyak cairan membasahi sofa yang kami gunakan untuk bertempur.

‘din, tante puas banget akhirnya bisa merasakan penismu’
‘aku juga tante, bisa ngentot dengan wanita cantik dan seksi seperti tante adalah anugrah’
Kami lalu membersihkan diri kami Nurdin terlihat capek karena baru saja ia bekerja keras memuaskan nafsu wanita yag haus akan seks. Gue lalu menyediakan makan malam untuknya.
‘sayang kamu tidur sini aja yah malam ini’ pinta gue
‘ia tante aku masih pengen ngentotin tante lagi’ kata Nurdin dengan semangatnya.

Malam itu Nurdin membuat gue menjerit keenakan dengan penisnya, entah berapa kali gue mengalami orgasme dengannya hanya saja yang gue ingat Nurdin masih begitu perkasa setelah gue tergeletak kecapean, Nurdin masih terus mengenjot gue. Sungguh momen yang paling luar biasa dengan hasrat yang terlepas bagai merpati yang terbang bebas.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*